Senin, 28 Februari 2022

Pertemuan keempat

 

Petanque : Teknik Dasar Melempar Bola Dengan Berdiri

TEKNIK DASAR MELEMPAR BOLA DENGAN BERDIRI DAN 1/2 JONGKOK

Sikap Badan

Pada saat melakukan lemparan bola besi, sikap badan adalah tetap lurus tidak di ayunkan atau pun di gerakan, yang bergerak hanyalah tangan yang melempar bola besi tersebut, badan dalam keadaan rileks namum tidak ikut bergerak.

 

Sikap Kaki

Kaki kanan di depan kaki kiri namun tidak terlalu jauh. Kaki kanan menghadap pada boka yaitu sebagai target yang akan di tuju dan kaki kiri agak di serong ke kanan, kedua kaki berada di dalam circle, ketika melaukan lemparan, jika di lakukan sambil berdiri maka keadaan kaki tetaplah lurus, tidak menekukakan lutut ketika sedang melakukan lemparan.

Jika melakukan lemparan dengan keadaan jongkok, posisi kaki tetap sama, namum sekarang lutut di tekuk dan jongkok, namun ketika sedang jongkok, tapak kaki tidak lah rata pada tanah melainkan di jinjit, kaki kanan tetap menghadap ke arah boka yang menjadi tujuan, dan kaki kiri agak sedikit di serongkan, posisi lutut sendiri agak berbeda dimana posisi lutut sebelah kanan lebih tinggi di bandingkan lutu sebelah kiri,

 

Teknik Melempar Bola

Pada sata akan melempar bola, baikmya membenarkan dahulu pegangan bola tersebut, jika merasa pegangan bola telah benar maka tangan yang akan melakukan lemparan hendaklah di ayunkan degan mengambil awalan dari depan lalu  di ayunkan ke belakang.

Posisi tangan ketika di ayunkan ke belakang adalah lurus tidak masuk ke dalam bagian belakang punggung, karena akan mengubah lari bola tidak sesuai target, ketika sudah mengayunkan tangan ke belekanag ayunkan kembali tangan kedepan hingga lurus untuk melepaskan bola besi tersebut, ketika melakukan lemparan posisi jari jangan sampai renggang, tetap rapat sehingga jalur lajunya bola adalah  di bagian tengah dari jari tersebut sehingga lajur bola akan tetap lurus sesuai target.

Jika renggang, maka pengenaan target akan jauh, dalam melempar haruslah kosentrasi dan tidak menggunakan emosi agar bola sesuai dengan target dan tidak terlalu jauh, haruslah memakai perasaan dalam melempar, Sama halnya ketika melempar sambil berdiri, ketika jongkok keadan ataupun cara melemparnya tetap sama dengan lemparan ketika berdiri, hanya keadaan lutut saja yang di tekuk, badan tetap tidak bergerak ketika melempar.

 

Teknik Dasar Melempar Bola Dengan 1/2 Jongkok

Melempar Bola Dengan Posisi 1/2 Jongkok

Jika melakukan lemparan dengan keadaan ½  jongkok, posisi kaki tetap sama, namum sekarang lutut di tekuk dan ½ jongkok, namun ketika sedang ½ jongkok, tapak kaki tidak lah rata pada tanah melainkan di jinjit, kaki kanan tetap menghadap ke arah boka yang menjadi tujuan, dan kaki kiri agak sedikit di serongkan, posisi lutut sendiri agak berbeda dimana posisi lutut sebelah kanan lebih tinggi di bandingkan lutu sebelah kiri.

Teknik Shooter dan Poointer

  • Shooter

Shooting
1. melontar boule ke arah boule sendiri supaya mendektijack atau ke arah boule pihak lawan supaya menjauhi jack.
2. posisi terbaik adalah berdiri supaya dapat perkiraan kedudukan boule yang hendak dituju.

teknik shooting
1. pastikan posisi kaki,lutut,badan,jari dan tangan dalam keadaan betul dan rilek
2. fokus kepada target bola atau jeck
3. ayunkan tangan ke belakang dengan pergerakan seluruh badan dengan lembut
4. bungkukkan sedikit badan untuk menambah kekuatan kepada teknik "back swing"
5. ketika melepaskan bola, pastikan tangan lurus
         pergelangan tangan bengkok ke atas kelima-kelima jari rapat
         lutut dan pinggang terkunci
         setkan minda - bukan "shoot" tapi "put".

  • Poointer

Pointing
1). Melontar boule arah jack untuk mendapat markah
2). Posisi terbaik adalah duduk supaya dapat melihat keadaan permukaan gelanggang supaya dapat perkiraan tempat boule jatuh dan bergulir le jack.
1.  a) paras kedua-dua lutut sama tinggi.
     b) paras lutut kanan lebih tinggi.
2.  a) ayunan boule dari paras bahu
     b) ayunan bola dari aras bawah
3. lontarkan boule ke arah jack

Senin, 14 Februari 2022

Pertemuan Ketiga

 Pertemuan Ketiga

 

Dalam suatu penyelengaraan pertandingan disamping faktor administrasi dan organisasi,

untuk menjamin pelaksanaan jalannya pertandingan atau perlombaan diperlukan adanya suatu

tata cara yang dapat mengatur pertandingan atau perlombaan. Untuk menentukan sistem

pertandingan kita harus memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut: waktu pertandingan,

biaya pertandingan, jumlah peserta dan penyediaan sarana dan prasarana.

 Pada kegiatan pertandingan atau perlombaan olahraga, dikenal sistem-sistem

pertandingan yaitu yang dapat memperlancar jalannya suatu pertandingan atau perlombaan

sehingga mendapakan pemenangnya. Adapun sistem pertandingan yang sudah sering kita kenal

adalah: sistem gugur, sistem kompetisi, sistem kombinasi.


1. Sistem Gugur

 Adalah suatu sistem yang mengatur pelaksanaan pertandingan dimana peserta yang kalah

tidak berhak mengikuti pertandingan selanjutnya. Pertandingan akan berakhir apabila pemenang

pemenang tidak mempunyai lawan lagi. Pemenang terakhir adalah juara I dan yang kalah

adalah juara II.

 Keuntungan system gugur adalah:

  • Dapat dikuti dengan peserta banyak
  • Menghemat waktu, biaya, dan petugas

 Kerugian dari sistem gugur adalah:

  • Peserta merasa kurang puas, karena sekali kalah langsung tidak dapat main kembali
  • Pertandingan atau perlombaan biasanya dianggap kurang berkualitas, karena pemenang tidak bertanding dengan semua peserta lainnya.

Sistem gugur dapat dibagi menjadi:


1. Sistem Gugur Tunggal (single elimination)

 a. sistem gugur tunggal murni

 b. sistem gugur dengan bye

 c. sistem gugur dengan seded (unggulan )

 d. sistem gugur dengan sisipan


2. Sistem Gugur Rangkap (double elimination)

3. Sistem Consulation

a. Sistem Gugur Tunggal Murni

 Ketentuan sistem gugur tunggal murni adalah:

  • Setiap peserta atau regu yang kalah tidak boleh main lagi
  • Bagan pertandingan dengan bangun akar dari dua (badd) 4, 8, 16, dst
  • Jumlah pertandingan adalah (n-1) untuk sampai juara I dan II
  • Jumlah pertandingan sampai juara I, II, III, dan IV adalan n (sejumlah peserta)
  • Untuk penempatan peserta adalah dengan diundi


b).Sistem Gugur Dengan Bye,

 Dipergunakan apabila jumlah peserta atau regu kurang dari bangun akar dari dua (badd),

sehingga bagannya dibuat menjadi bangun akar dari dua dahulu. Contohnya 6 regu

menjadi 8 regu, 12 regu menjadi 16 regu, dst.

 Untuk menempatkan bye pada bagan pertandingan adalah ditempatkan oleh panitia.

Apabila bye ada dua, maka ditempatkan di atas dan dibawah pada bagan. Sedangkan apabila bye

lebih dari dua, maka penempaan bye adalah di atas, di bawah, ditengah bawah, ditengah atas dst.

Setelah itu regu-regu yang lainnya diundi seperti biasa.


c). Sistem gugur dengan seeded (unggulan)

 Sistem seeded dipakai untuk menghindari peserta atau regu yng kuat bertemu di babak

pertama, sehinga pertandingan dibabak final tidak menarik lagi. Sistem seeded mengacu

pada kejuaraan tahun sebelumnya yang menjadi juara. Tentu saja sebelumnya sistem seeded

ini harus diberitahukan dahulu pada peserta yang lainnya. Setelah itu regu atau peserta

lainnya diundi seperti pada sistem gugur murni Penempatan regu-regu seeded sama saja

dengan penempatan sistem bye.


2. Sistem Kompetisi

 Sistem pertandingan olahraga yang kedua yang kita kenal adalah sistem kompetisi yang

dapat dibagi menjadi :

  • sistem setengah kompetisi
  • sistem kompetisi penuh

Sistem setengah kompetisi adalah peserta bertanding dengan lawan yang sama hanya satu

kali kecuali jika peserta tersebut bertemu kembali dibabak selanjutnya, sedangkan sistem

kompetisi penuh adalah peserta bertanding dengan lawan yang sama sebanyak dua kali yaitu

dikandang dan tandang (home and away).

 Keuntungan dari sistem kompetisi yaitu :

1. setiap peserta mempunyai kesempatan akan saling berhadapan dengan peserta yang

lainya

2. peserta yang kualitasnya baik atau kemampuannya kuat akan benar-benar teruji untuk

memungkinkan menjadi juara

3. sistem pertandingan ini dapat digunakan sebagai ajang atau patokan untuk mengukur

kemampuan pemain secara baik

Kelemahan-kelemahan dari sistem pertandingan kompetisi

1. waktu pertandingan untuk pelaksanaan dibutuhka relative panjang

2. memerlukan peralatan, biaya, lapangan, dan tenaga serta sarana prasarana lainya yang

dibutuhkan harus banyak

3. peserta yang lemah yang semula diramalkan tidak akan juara mempunyai kesempatan

untuk menjadi juara dan tentunya hal ini akan menjadi beban panitia

4. bagi peserta yang telah aman kedudukan dalam klasemennya dan jumlah nilainya bisa

terjadi kasus main sabun/ suap atau tidak bersunguh-sungguh


Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam sistem kompetisi

1. jumlah peserta tidak boleh terlalu banyak

2. apabila kualitas peserta dianggap berimbang atau rata

3. apabila juara yang diperebutkan bersifat daerah atau nasional

4. apabila ingin mengetahui rengking secara keseluruhan

5. kondisi alam, biaya, lapangan, petugas pelaksana mencukupi

Rumus-rumus yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pertandingan dengan

menggunakan sistem kompetisi.

1.) jumlah pertandingan setiap peserta atau regu adalah: n – 1

2.) jumlah ronde yang akan diadakan adalah: n - 1

3.) jumlah pertandingan pada tiap ronde : ½ x n ( n – 1 )

4.) untuk mengetahui jumlah pertandingan secara keseluruhan :

 rumusnya = ½ x n ( n – 1 )

 Untuk menetukan juara dalam pertandingan olahraga dalam sistem kompetisi dapat

dikategorikan berdasarkan cabang olahraganya yaitu :


  • cabang olahraga yang ditentukan dengan kalah – menang
  • cabang olahraga yang ada set kemenangannya dan yang ada set kekalahannya
  • cabang olahraga yang ada hasilnya draw
  • Sedangkan untuk menentukan urutan juara dapat dilihat dari:
  • nilai terbanyak
  • elisih gol antara memasukan dan kemasukan
  • gol terbanyak
  • adu finalty, diundi, dan play off
  • Dalam pelaksanaannya panitia penyelenggara setelah mendata seluruh peserta, maka langk selanjutnya adalah:
  • membuat jadwal pertandingan untuk diketahui oleh seluruh peserta
  • mencatat hasil-hasil pertandingan dan diketahui oleh seluruh peserta
  • menyusun seluruh hasil pertandingan untuk menentukan juara


 Membuat Jadual Pertandingan

Dalam menyusun jadwal pertandingan untuk sistem ½ kompetisi ini dapat dilakukan dengan

dua cara yaitu: cara satu (1) menetap dan cara dua (2) berkelana

Contoh menyusun jadwal pertandingan dengan mempergunakan cara satu (1) menetap untuk

cabang olahraga yang ditentukan kalah – menang, seperti: bola basket, hoki, dll

Diketahui peserta Kejuaraan bola basket antar Fakultas se-UPI sebagai berikut:

 1.FPOK, 2.FPTK, 3.FPBS, 4.FPMIPA, 5.FIP, 6.FPIPS

 Jumlah pertandingan dengan enam (6) regu maka dapat diketahui:

- jumlah pertandingan setiap regu adalah N-1 = 6 – 1 = 5

 - jumlah seluruhn pertandingan adalah ½ n x (n-1) = ½ 6 (5) = 3 x 5 = 15

 Untuk menentukan jadwal pertandingan, terlebih dahulu panitia mengundi peserta untuk

dapat menempati posisi no 1 sampai dengan no 6, selanjutnya baru dibuat jadwal pertandingan

dengan cara satu ( 1 ) menetap adalah sebagai berikut:

 1 – 2 1 – 4 1 – 6 1 – 5 1 – 3

 3 – 4 2 – 6 4 – 5 6 – 3 5 – 2

 5 – 6 3 – 5 2 – 3 4 – 2 6 – 4

 Contoh jadwal ½ kompetisi dengan

 satu (1) menetap untuk peserta ganjil ( 5 )

 1 – 2 1 – 4 1 – X 1 – 5 1 – 3

 3 – 4 2 – X 4 – 5 X – 3 5 – 2

 5 – X 3 – 5 2 – 3 4 – 2 X – 4

 Kuncinya untuk satu (1) berkelana adalah no 1 selalu berada pada sisi sebelah kiri atas dan

angka-angka diputar berlawanan dengan arah jarum jam.

 Selanjutnya menentukan jadwal dengan system ½ kompetisi dengan cara 2 berkelana adalah

sebagai berikut ( dengan jumlah peserta 6 regu )

 Contoh ½ kompetisi dengan 2 berkelana

 1 – 2 1 – 4 4 – 2 4 – 6 6 – 2

 3 – 4 3 – 6 1 – 6 1 – 5 4 – 5

 5 - 6 2 – 5 3 – 5 2 – 3 1 – 3

 Kuncinya adalah angka dua (2) pertama berada pada sudut kanan atas, kedua berada pada

sudut kiri bawah (diagonal), ketiga berada pada sudut kanan atas, keempat berada pada sudut

kiri bawah, kelima berada pada sudut kanan atas dan angka-angka diputar berlawanan

dengan arah jarum jam.

Selasa, 08 Februari 2022

Pertemuan kedua

 Teknik Dasar Petanque

Pada dasarnya, permainan petanque mengharuskan atletnya melempar boule pada titik yang tepat untuk mendekati jack. Lemparan ini pun dimaksudkan untuk mendekati sasaran atau menjauhkan boule lawan yang ada di dekat jack. Berikut teknik dasar melempanya.

- Throwing for Pointing

·       Roll atau lemparan menggelindingkan boule sampai ke dekat sasaran

·       Soft Lob melempar bola setengah parabol untuk sampai ke titik tertentu diikut dengan bola yang menggelinding

·       High Lob atau melempar bola agak tinggi untuk membuat mendapatkan titik yang diinginkan tanpa menggelindingkan bole lebih jauh.

- Throwing fo Shooting

Teknik lemparan ini bukan hanya untuk membuat boule lebih dekat dari jack, tapi juga menjauhkan boule tim lawan. Tekniknya adalah melempar boule supaya sama-sama menjauh, melempar boule untuk menggantikan boule yang lebih dekat dengan jack, atau menjadikan boule tim lawan sebagai tektokan supaya bisa mendekati jack.

Untuk melemparnya dengan tepat, butuh ketekunan dan kerja keras setiap hari. Selain itu, olahraga petanque butuh konsentrasi tinggi dalam melakukannya. Semoga informasi di atas bisa bermanfaatkan dan berguna sebagai penyemangat untuk mencobanya.

Teknik Lemparan Dalam Petanque

1.     Teknik Melempar Bola Dengan Berdiri

§     Sikap Badan

Pada saat melakukan lemparan bola besi, sikap badan adalah tetap lurus tidak di ayunkan atau pun di gerakan, yang bergerak hanyalah tangan yang melempar bola besi tersebut, badan dalam keadaan rileks namum tidak ikut bergerak.

§     Sikap Kaki

Kaki kanan di depan kaki kiri namun tidak terlalu jauh. Kaki kanan menghadap pada boka yaitu sebagai target yang akan di tuju dan kaki kiri agak di serong ke kanan, kedua kaki berada di dalam circle, ketika melaukan lemparan, jika di lakukan sambil berdiri maka keadaan kaki tetaplah lurus, tidak menekukakan lutut ketika sedang melakukan lemparan.

Jika melakukan lemparan dengan keadaan jongkok, posisi kaki tetap sama, namum sekarang lutut di tekuk dan jongkok, namun ketika sedang jongkok, tapak kaki tidak lah rata pada tanah melainkan di jinjit, kaki kanan tetap menghadap ke arah boka yang menjadi tujuan, dan kaki kiri agak sedikit di serongkan, posisi lutut sendiri agak berbeda dimana posisi lutut sebelah kanan lebih tinggi di bandingkan lutu sebelah kiri, 

§      Teknik Melempar Bola

Pada sata akan melempar bola, baikmya membenarkan dahulu pegangan bola tersebut, jika merasa pegangan bola telah benar maka tangan yang akan melakukan lemparan hendaklah di ayunkan degan mengambil awalan dari depan lalu  di ayunkan ke belakang.

Posisi tangan ketika di ayunkan ke belakang adalah lurus tidak masuk ke dalam bagian belakang punggung, karena akan mengubah lari bola tidak sesuai target, ketika sudah mengayunkan tangan ke belekanag ayunkan kembali tangan kedepan hingga lurus untuk melepaskan bola besi tersebut, ketika melakukan lemparan posisi jari jangan sampai renggang, tetap rapat sehingga jalur lajunya bola adalah  di bagian tengah dari jari tersebut sehingga lajur bola akan tetap lurus sesuai target.

Jika renggang, maka pengenaan target akan jauh, dalam melempar haruslah kosentrasi dan tidak menggunakan emosi agar bola sesuai dengan target dan tidak terlalu jauh, haruslah memakai perasaan dalam melempar, Sama halnya ketika melempar sambil berdiri, ketika jongkok keadan ataupun cara melemparnya tetap sama dengan lemparan ketika berdiri, hanya keadaan lutut saja yang di tekuk, badan tetap tidak bergerak ketika melempar.

2.     Teknik Melempar Bola Dengan 1/2 jongkok

Jika melakukan lemparan dengan keadaan ½  jongkok, posisi kaki tetap sama, namum sekarang lutut di tekuk dan ½ jongkok, namun ketika sedang ½ jongkok, tapak kaki tidak lah rata pada tanah melainkan di jinjit, kaki kanan tetap menghadap ke arah boka yang menjadi tujuan, dan kaki kiri agak sedikit di serongkan, posisi lutut sendiri agak berbeda dimana posisi lutut sebelah kanan lebih tinggi di bandingkan lutu sebelah kiri.

3.     Teknik Melempar Bola Dengan Berdiri

§     Teknik melempar bola

Pada saat akan melempar bola, baikya membenarkan dahulu pegangan bola tersebut, jika merasa pegangan bola telah benar maka tangan yang akan melakukan lemparan hendaklah di ayunkan degan mengambil awalan dari depan lalu  di ayunkan ke belakang.

Posisi tangan ketika di ayunkan ke belakang adlah lurus tidak masuk ke dalam bagian belakang punggung, karena akan mengubah lari bola tidak sesuai target, ketika sudah mengayunkan tangan ke blekanag ayunkan kembali tangan kedepan hingga lurus untuk melepaskan bosi tersebut, ketika melakukan lemparan posisi jari jangan sampai renggang, tetap rapat sehingga jalur lajunya bola adalah  di bagian tengah dari jari tersebut sehingga lajur bola akan tetap lurus sesuai target, jika renggang, maka pengenaan target akan jauh, dalam melempar haruslah kosentrasi dan dan tidak menggunakan emosi agar bola sesuai dengan target dan tidak terlalu jauh, haruslah memakai perasaan dalam melempar, Sama halnya ketika melempar sambil berdiri, ketika jongkok keadan ataupun cara melemparnya tetap sama dengan lemparan ketika berdiri, hanya keadaan lutut saja yang di tekuk, badan tetap tidak bergerak ketika melempar.

§   n  Sikap kaki

Kaki kanan di depan kaki kiri namun tidak terlalu jauh. Kaki kanan menghadap pada boka yaitu sebagai target yang akan di tuju dan kaki kiri agak di serong ke kanan, kedua kaki berada di dalam circle, ketika melaukan lemparan, jika di lakukan sambil berdiri maka keadaan kaki tetaplah lurus, tidak menekukakan lutut ketika sedang melakukan lemparan.

Jika melakukan lemparan dengan keadaan jongkok, posisi kaki tetap sama, namum sekarang lutut di tekuk dan jongkok, namun ketika sedang jongkok, tapak kaki tidak lah rata pada tanah melainkan di jinjit, kaki kanan tetap menghadap ke arah boka yang menjadi tujuan, dan kaki kiri agak sedikit di serongkan, posisi lutut sendiri agak berbeda dimana posisi lutut sebelah kanan lebih tinggi di bandingkan lutu sebelah kiri,


Selasa, 01 Februari 2022

Pertemuan Pertama

1. Defenisi Petanque   

    Olahraga Petanque berasal dari Negara Prancis. Olahraga ini awalnya merupakan olahraga tradisional asal Prancis, lalu dikembangkan sebagai cabang olahraga prestasi, permainan tradisional dengan induk olahraga Petanque Internasional bernama Fédération Internationale de Pétanque et Jeu Provençal (FIPJP) yang didirikan di Marseille, Prancis pada tahun 1958. 

    Olahraga Petanque datang ke Indonesia kiranya pada tahun 1990an karena olahraga ini dibawa oleh para ekspatriat Prancis ke Indonesia namun masih terbatas dikalangan ekspatriat saja. Baru pada tahun 2011 ketika Indonesia menjadi tuan rumah SEA Games ke-26 di Jakarta – Palembang, Petanque menjadi olahraga yang dipertandingakan. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui KONI Provinsi Sumatera Selatan, menunjuk Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi untuk mengemban amanah yang diberikan untuk membentuk wadah olahraga petanque sekaligus mencari calon atlet untuk SEA GAMES 2011 di Palembang. Maka Perusahaan Daerah Pertambangan Dan Energi atau dikenal dengan sebut PDPDE membentuk Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) pada tanggal 11 Maret 2011 dan membiayai kegiatan kegiatan FOPI untuk SEA GAMES 2011.

    Olahraga Petanque adalah suatu bentuk permainan boules yang tujuannya melempar bola besi sedekat mungkin dengan bola kayu yang disebut cochonnet/jack/boka dan kaki harus berada di lingkaran kecil. Permainan ini biasa dimainkan di tanah keras, tapi juga dapat dimainkan di rerumputan, pasir atau permukaan tanah lain. Tetapi dalam kejuaraan nasional ataupun internasional menggunakan lapangan tanah keras.

    Pétanque atau dapat diucapkan "petank" adalah suatu bentuk permainan olahraga yang tujuannya melempar bola besi sedekat mungkin dengan bola kayu yang disebut cochonet. Kaki pelempar juga harus berada di dalam lingkaran kecil yang sudah ditentukan. Ada jarak yang ditetapkan, yaitu jarak lemparan dari bola kayu dengan pelempar, antar enam sampai sepuluh meter. Dalam Petanque, terdapat single tim, double tim, triple tim, dan mix tim, dan jenis permainan ini adalah batle tim.


2. Sejarah Petanque

Sejarah Tradisional Petanque

    Pada awal abad ke-6 SM orang Yunani Kuno telah memainkan permainan melempar koin, batu datar, dan bola batu, disebut spheristics. Bangsa Romawi Kuno memodifikasi permainan dengan menambahkan target yang harus didekati sedekat mungkin. Variasi Romawi dibawa ke Provence (wilayah selatan Prancis) oleh tentara Romawi dan pelaut. Pada sebuah makam Romawi di Florence wilayah Italia, terdapat nisan yang menggambarkan tentang orang bermain permainan ini dengan dekorasi pada nisannya terlihat orang yang sedang membungkuk untuk mengukur poin.

    Dalam perkembangannya setelah itu masyarakat Roma, menggantikan target yang awalnya bola batu dengan bola kayu. Pada Abad Pertengahan Erasmus menyebut permainan itu sebagai globurum, tetapi selanjutnya oleh berbagai kalangan lebih dikenal sebagai ‘boule,’ atau bola, dan permainan ini mulai dimainkan di seluruh Eropa.

    Raja Henry III dari Inggris melarang permainan itu dan menggantikannya dengan pemanah, dia ingin warganya lebih berlatih memanah sebagai bela negara dibanding memainkan bole. Pada abad 14, Charles IV dan Charles V dari Prancis juga melarang seluruh olahraga untuk rakyat jelata, yang boleh berolahraga hanya kalangan bangsawan. Larangan ini baru pada abad ke-17 dicabut.

    Pada abad ke-19, di Inggris olahraga permainan ini disebut dengan lawn-bouwling, sedangkan di Prancis, olahraga ini tetap dikenal sebagai boule yang dapat dimainkan di seluruh lapisan masyarakatnya. Meissonnier seorang seniman Prancis membuat dua lukisan menunjukkan orang-orang bermain game. Sedangkan Honoré de Balzac dalam La Comédie humaine menggambarkan permainan ini dalam dramanya.

    Di Prancis Selatan boule telah berevolusi menjadi jeu Provençal (boule lyonnaise) mirip dengan petanque, kecuali ukuran lapangannya yang jauh lebih besar dari petanque dan pemain harus berlari tiga langkah sebelum membuang bola. Permainan ini dimainkan di desa-desa di seluruh Provence, pada lapangan tanah di bawah naungan pohon. Permainan ini diceritakan secara rinci pada memoar novelis Marcel Pagnol.


Sejarah Petanque Di Indonesia

    Olahraga petanque masuk ke Indonesia sampai saat ini belum diketahui kapan persis, belum ada penelitian yang secara khusus dilakukan. Berapa tempat seperti jakarta, lombok, yogyakarta dan bali, olahraga ini dibawa oleh expatriat Prancis dengan membangun sarana prasarana olahraga petanque sebagai fasilitas pendukung suatu hotel yang dikelola oleh orang Prancis seperti Hotel novotel di kuta lombok, hotel horizon ancol dan banyak lagi hotel hotel Prancis lainnya. Selain itu juga tempat tempat pendidikan seperti di konsulat Prancis di yogyakarta. para ekspatriat asal Prancis yang membawanya ke Indonesia namun masih terbatas di kalangan para ekspatriat saja. Salah satu bukti saksi keberadaan olahraga petanque di indonesia adalah Bapak Eddie Lim, asal singapura, yang belajar olahraga Petanque pertama kali di Ancol Jakarta Indonesia pada tahun 1990 an, selanjutnya olahraha teraebut dibawa oleh beliau ke negaranya Singapura.

    Baru pada tahun 2011 ketika Indonesia menjadi tuan rumah SEA Games ke-26 di Jakarta – Palembang, petanque menjadi olahraga wajib. Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan melalui KONI Provinsi Sumatra Selatan, menunjuk Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi untuk mengrmban amanah yang diberikan untuk membentuk wadah olahraga ini sekaligus mencari calon calon atlet untuk SEA GAMES 2011 di Palembang. Maka Perusahaan Daerah Pertambangan Dan Energi atau dikenal dengan sebut PDPDE membentuk Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) pada tanggal 11 Maret 2011 dan membiayai kegiatan kegiatan FOPI untuk SEA GAMES 2011.


3. Teknik-Teknik Dalam Olahraga Petanque

a. Lemparan Untuk Menuju Titik Sasaran (Throwing for pointing)

  • Roll ( Lemparan dengan menggelindingkan bola ke tanah)
  • Soft-Lob ( Lemparan Stengah Parabol)
  • High-Lob (Lemparan Tinggi Parabol)

b. Lemparan untuk menembak (Throwing for shooter)

  • Shot On The Iron
  • Shot Shot
  • Ground Shot

Pertemuan keenam

  Sistem Pertandingan Permainan Petanque SISTEM PERTANDINGAN PERMAINAN PETANQUE Nomor Pertandingan :  Shooting (Putra dan Putri) ...